HeaderBundaLillah

Tersapu Doa

 

Tersapu Doa

 

Sepi ini begitu menggigit, tak kudengar sedikit pun suara di gendang telinga. Meski telah kutegakkan daunnya, berharap ada hembusan angin, suara sandal diseret atau nyanyian kodok selepas hujan. Hening....

Kulalui malam-malam sunyi sendiri dalam kondisi sulit tidur. Berjuang sekuat tenaga memejamkan mata, berharap mimpi akan menghibur, tapi selalu sia-sia. Orang-orang bilang, semakin tua maka insomnia pun pasti menyapa. Kuluruskan kaki tuaku, berusaha bangkit dan berharap gemeretak ranjang akan membuat telinga ini akhirnya bekerja.

Dalam gelap, lamat-lamat kudengar ayam berkokok... Alhamdulillah, berarti hadir malaikat. Dalam posisi duduk, aku bertayamum. Ahhh...sudah waktunya kupanjatkan doa. Lupakan sepi, lupakan hati yang kian berkarat digerus kesendirian.

Allahu Akbar....

===

Lagi-lagi kabar lelayu tersiar di speaker masjid. Satu persatu teman seumuran meninggalkan fananya dunia. Sudah selesai jatah tugas mereka di dunia. Kuingat-ingat hanya tinggal aku dan Darto yang tersisa di kampung ini. Menanti waktu itu, seperti pusaran yang membuatku haru biru. Terlalu banyak bonusku dari Gusti Allah, pikirku.

Bukan aku menantang ajal, tapi yang kurasa keberadaanku sudah tak lagi memberi manfaat. Tubuh ringkih ini hanya menjadi beban Ajeng, cucuku yang tinggal di sebelah rumah.

"Mbah...ayo kita berbuka!" Suara cucuku terdengar lembut di telinga, tapi berhasil memutus lamunan.

"Sebentar nduk, Simbah belum banyak doa," jawabku.

"Simbah nih lho...dari kemarin doa terus. Doa minta apa toh Mbah?" Ajeng memasang wajah lucu di hadapanku. Seketika hatiku menggerimis... Anak yang disia-siakan orang tuanya justru kini menjadi anak yang paling berbakti. Selain merawatku, sejak dua tahun lalu dia juga merawat ibunya, menantuku yang stroke.

"Simbah doa diberi kemudahan pulang nduk... ."

"Lho, Simbah kan sudah di rumah. Maksud Simbah??" Ajeng menatapku nanar, kulihat matanya sudah berkaca-kaca.

"Simbah mau istirahat nduk...sudah sepi dunia ini rasanya."

Ajeng langsung mendekapku, isaknya terdengar pelan. Aku tahu pasti berat untuknya. Sejak kecil hanya aku yang dia kenal. Kedua orang tuanya berpisah dan ibunya memilih mengadu nasib di luar negeri. Anakku, ayah Ajeng meninggalkan kami berdua dan tinggal di luar pulau tanpa pernah lagi memberi kabar.

Beruntung Ajeng tetap bisa sekolah dan kini sudah menjadi bidan, dipersunting pemuda saleh nan gagah dan sekarang sudah memiliki tiga anak. Ahh...tunai sudah rasanya tugasku, jadi aku mau pulang di bulan baik ini.

===

Sepi ini terasa semakin menggigit, tak lagi bisa kudengar apapun. Bahkan tak lagi bisa kurasakan hangatnya ranjangku...hanya gelap.

Related Posts

7 komentar

  1. Endingnya bikin nyesek bunda... Pinter banget sih pilih diksi indah... Jadi gemes pingin nulis flash fiction lagi deh

    BalasHapus
  2. Bun, ceritanya singkat dam bikin aku nangis.. Cerita ini mengingatkanku pada simbahku juga.. Umurnya sudah hampir 1 abad, berdoa terus dan cerita bahwa teman"nya sudah banyak yg meninggalkan dirinya.. Bahkan adiknya sendiripun sudah ada yg mendahuluinya..

    BalasHapus
  3. Duh aku ikut merasakan jadi ajeng. Si mbah ini pasti sosok yanh luarbiasa. Bu lillah barokalloh ..

    BalasHapus
  4. Yaah, jadi meninggal nih simbahnya bu, sabar ya Ajeng

    BalasHapus
  5. Innalillahi wainna ilaihi rajin.. Si Mbah akhirnya berpulang dengan tenang, Semoga si Mbah husnul khatimah ya.

    BalasHapus
  6. wah penggambaran situasinya cukup detil ya jadi bisa bayangin se sepi apa rasanya yang dirasakan simbah

    BalasHapus
  7. Semoga doa selalu mendekap orang tersayang untuk terus melambungkan harapan membawa kaki, mata tetap bertasbih. Aaah, seakan berada di plot dan waktu cerita ini

    BalasHapus

Posting Komentar