HeaderBundaLillah

Sahur Terakhir Pemilik Dua Cahaya

 

Utsman Bin Affan


Dingin udara malam ini terasa lebih menggigit. Bukan karena hawa yang justru sedang panas, tapi lebih pada kegetiran kenyataan dirimu sedang dikepung. Semakin pahit karena sejatinya mereka bukan kelompok yang berbeda keyakinan denganmu, melainkan rakyatmu sendiri.

Hampir dua purnama para pemberontak itu mengungkungmu di rumahmu sendiri. Bukan tanpa sebab, mereka bilang karena tak puas dengan caramu memimpin. Ada banyak ujaran kebencian yang mereka lontarkan tanpa bertanya. Mereka hanya mau kau turun dari tampuk kuasamu atau mereka terpaksa memaksamu turunyang artinya kematian.

Saat para sahabat meminta agar engkau membalas kelakuan mereka, engkau hanya tersenyum sambil berkata,”Tidak layak jika aku menjadi sumber kekacauan, yang mereka inginkan adalah aku. Silahkan kalian pulang, aku titipkan kalian kepada Allah swt.”

===

Dalam diammu, dalam renungmu, tak pernah sedikit pun terlintas keinginan menjadi khalifah. Usiamu tak lagi muda saat itu, tapi sebelum wafatnya, Sayyidina Umar memasukkanmu dalam tim formatur pemilihan khalifah sepeninggalnya. Bersama lima sahabat utama lainnya, takdir Allah menahbiskanmu sebagai khalifah umat Islam saat itu.

Wahai pemilik dua cahaya, pemberontak itu sudah kehilangan kesabaran mereka. Beberapa dari mereka sudah mulai menaiki atap rumah tetanggamu. Kondisi semakin genting hingga para sahabat Rasulullah lainnya mengirimkan anak-anak mereka yang gagah perkasa untuk menjagamu.

Tapi lagi-lagi engkau menolak, karena sudah tahu ini saatmu. Hari ini nubuat Nabi akan terbukti sebagaimana yang diceritakan sahabat Abu Musa Al Asy’ari.

"Pada suatu hari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke sebuah kebun dari kebun-kebun Madinah… lalu datang Utsman. Aku berkata, 'Tunggu dulu! Sehingga aku memohon izin (kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam) untukmu,' kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, 'Izinkanlah ia, berilah kabar kepadanya dengan surga, bersamanya ada musibah yang menimpanya.”

Nubuat ini juga yang membuatmu masuk dalam jajaran sepuluh sahabat Rasulullah yang dijamin surga. Alangkah beruntungnya dirimu wahai bangsawan Quraisy yang rida meninggalkan hartamu demi Islam.

Dini hari tadi Abu Hurairah membangunkanmu.

    "Wahai Amir al-Mukminin, semoga Allah merahmatimu. Bangun dan makan sahurlah," ucap Abu Hurairah berbisik.

Engkau terbangun dengan wajah sedikit murung lalu berucap, "Subhanallah, wahai Abu Hurairah. Rupanya engkau telah memotong mimpiku. Di dalam mimpi, aku bertemu Rasulullah SAW dan beliau bersabda,"Besok, engkau akan berbuka puasa bersama kami."

===

Entah apa yang berkecamuk di hatimu melihat semua kejadian ini. Engkau, yang padamu Rasulullah saja malu karena kehalusan sikap dan kesantunanmu. Cintanya padamu membuatnya merelakan dua putrinya menjadi istri-istrimu.

    “Apakah kalian melarangku masuk untuk mengantarkan air ini kepada keluarga Khalifah?”

Engkau mendengar suara seseorang di luar sana. Tapi para pemberontak tidak mengindahkan orang tersebut dan tidak mengizinkannya melewati mereka.

    “Kalian tahu, lelaki di dalam rumah inilah yang telah memberi sumur Raumah dari Yahudi sehingga warga Madinah tidak lagi kesulitan mencari air. Tidak layak jika ia dihalangi dari haknya!”

Ah, kebencian memang akan membutakan segalanya. Tidak ada lagi kemuliaan seorang khalifah yang mereka kagumi.

Mereka terus merangsek untuk masuk ke dalam rumahmu, bahkan mereka tega membakar atap dan pintu. Engkau bergeming dan kemudian melaksanakan salat sambil memegang mushaf Al Quran yang adalah hasil karyamu menuliskannya kembali.

    “Allahu Akbar!” terdengar pekik Nailah, istrimu. Engkau tak tahu, dia berusaha melindungimu dan merelakan jari jemari tangannya terputus karena tebasan pedang. Dua pelayanmu yang tersisa di rumah sudah mendahuluimu menemui Rabb-Nya.

Duhai kekasih Rasulullah, tidak kah ada rasa takut di hatimu sedikitpun? Lihat, para pemberontak yang dipimpin Abdullah bin Saba kini sudah mengepung di dalam kamarmu. Tak juga muncul rasa takut di dalam hati mereka melihatmu sedang salat dan tilawah. Tak lagi tertinggal rasa iba di hati mereka padahat saat itu usiamu sudah 82 tahun.

Allahumma ya Allah, beginilah jika amarah telah meraja. Padahal apa yang mereka tuduhkan kemudian terbuka kebenarannya. Tidak kah mereka takut ancaman hari akhir buat mereka yang membunuh muslim dengan sengaja.

Lisanmu tetap lantang membaca Al Quran saat tanganmu tertebas demi menjaganya. Kitab itu tetap di tanganmu saat akhirnya engkau terjerembab jatuh meregang nyawa. Pedang telah menusuk tubuhmu yang mulia.

Terpenuhi sudah janji Rasulullah bahwa hari itu engkau akan berbuka bersama mertua kesayanganmu itu. Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Robb-mu dengan penuh keridaan…

Related Posts

Posting Komentar