HeaderBundaLillah

Menjejak Jalan Cahaya

Posting Komentar

 

Cerita Pendek

Part 1

Maya berlari terengah-engah melewati perkampungan kecil yang belum dikenalnya. Gangnya sempit dengan aroma selokan yang menyengat. Rumah-rumah rapat yang dihiasi jemuran bergelantungan. Anak-anak yang bermain di tengah-tengah gang dengan asyiknya tanpa mempedulikan sesiapa yang lewat. Sesekali ia melewati beberapa anak muda yang sedang asyik beramai-ramai bernyanyi sambil gonjrang gonjreng memetik gitar. Rasa kebas di kaki, tak menghalangi langkahnya untuk terus berlari.

Entah siapa yang mengejarnya, yang ia tahu ada dua orang lelaki dengan pakaian serba hitam. Tapi dia tidak tahu apa alasan mereka mengejarnya. Sambil berlari ia memeras otak, apa kesalahan yang sudah dia perbuat. Tiba-tiba…jalanan di depannya putus, yang ia lihat hanya gelap. Deru napasnya memburu, dua orang yang mengejarnya semakin dekat. Maya memutuskan terus maju meski ia tak tahu apa yang ada di hadapannya.

    “Bruk!”

    “Aww.. .” Ia meringis sambil menahan pundaknya yang terasa sakit akibat menyentuh benda keras. Seketika matanya terbuka, masih dengan terengah-engah dan berkeringat, lamat-lamat terlihat ruangan kamarnya yang temaram oleh lampu tidur.

Tuhan, lagi-lagi mimpi itu, Maya mendesah dalam hati. Ia menatap jam beker di meja belajar, baru pukul empat. Tapi ia terlalu takut untuk melanjutkan tidurnya meski ini hari libur. Ia memutuskan untuk melanjutkan membaca novel baru dari Dan Brown.

===

    “Maya…ayo berangkat! Papa sudah di mobil lho,” seru Mama dari lantai bawah.

Maya masih mematut diri di cermin, sebenarnya ia enggan memakai celana panjang. Ia lebih senang mengenakan rok panjang seperti seragam sekolahnya. Tapi buat sembahyang di vihara, dianjurkan memakai celana panjang agar memudahkan saat melakukan namaskara. Ia pun mencari tunik pemberian Eyang saat lebaran lalu. Ia suka karena tunik itu panjang melewati lutut.

    “Kebaktiannya kira-kira berapa lama Ma?” tanya Papa saat mobil sudah berjalan.

    “Kayak biasa lah Pa, paling dua jam.” Jawab Mama sambil lalu.

Maya hanya diam di kursi belakang. Matanya sibuk melihat pemandangan di kanan jalan. Perjalanan menuju vihara sebenarnya mengasyikkan karena naik ke atas bukit. Mereka bisa menghirup udara yang lebih segar dengan menyaksikan pemandangan yang menenangkan mata. Tapi membayangkan acara di dalam vihara yang kadang membuat Maya merasa jenuh. Ritual yang sama bertahun-tahun, seakan kebaktian hari itu bisa menghapus kesalahan selama sepekan.

Maya melambaikan tangan ke Papanya saat akan memasuki vihara. Yah…Papa seorang muslim, karenanya hanya mengantar mereka sampai depan vihara setiap minggunya. Meski muslim, Papa bukan termasuk yang taat. Maya jarang melihat Papanya beribadah. Sementara Mama yang mengajar mata pelajaran agama Buddha di sebuah sekolah dasar, adalah seorang Buddhis taat. Itulah sebab, Maya akhirnya menganut agama sang Mama.

Jujur sebenarnya Maya merasa sendiri. Di rumah, di sekolah, di tempat les, tidak banyak orang yang beragama sama dengannya. Bahkan kadang teman-teman Maya merasa heran kenapa bisa Maya beragama Buddha, padahal ia jawa tulen. Mungkin kalau dia keturunan tionghoa akan lebih mudah baginya mencari teman.

Kadang Maya letih harus menceritakan bahwa di sebuah daerah yang masuk dalam karesidenan Banyumasan, ada sebuah desa yang dihuni dua agama mayoritas, yakni Islam dan Buddha. Bahkan di sana dibangun vihara yang cukup besar. Dan dari desa itulah Mama dan Papanya berasal. Tidak heran jika di desa itu, dalam sebuah kartu keluarga bisa tercantum dua agama yang dianut pemiliknya.

Sejauh ini, sebenarnya teman-temannya tidak pernah mempermasalahkan soal agama. Mereka tetap baik dan mendukung dengan selalu melibatkan Maya dalam setiap kegiatan. Tidak pernah sekali pun ia mengalami perisakan, mungkin karena dia pun pandai bergaul dan membawa diri. Hanya saat teman-temannya melaksanakan ibadah, salat atau mendengarkan kajian di musala, mau tidak mau dia hanya bisa menunggu di luar. Saat itulah dia kadang merasa terasing.

===

    “Pa, kalau aku belajar tentang Islam, boleh gak?” satu sore di sudut teras, Maya bertanya pada Papanya yang sedang asyik membaca buku. Papanya mendongak dan menatapnya kebingungan.

    “Kenapa May? Kok tiba-tiba?” Papa merangkulnya.

    “Pengen aja, Pa. Pengen tahu agama Papa seperti apa,” jawaban Maya sebenarnya adalah godam berat di hati Pak Sambodo. Ia yang jarang beribadah, tak pernah sama sekali berharap anaknya mempelajari agamanya. Ia tahu Islam bukan agama yang mudah untuk dijalankan, ada banyak aturan dan larangan di sana. Ia saja tak sanggup, bagaimana dengan anaknya. Hatinya resah, tapi ia juga tak bisa melarang anaknya. Sekali dilarang, pasti rasa ingin tahunya akan semakin besar.

    “Papa gak bisa melarang, tapi Papa juga tidak menyarankan. Apalagi kalau Mamamu tahu, bagaimana?”

    “Itu yang aku takut sebenarnya, Pa. Tapi aku kan cuma mau belajar aja, gak ngapa-ngapain kok Pa. Janji deh.” Maya memeluk Papanya erat. Hati pak Sambodo luluh seketika, biarlah apa yang terjadi ke depannya.

Sejak saat itu Maya semakin intens mempelajari agama Islam. Kecanggihan teknologi memudahkannya berselancar di dunia maya mencari informasi yang dibutuhkan. Ia berusaha memilih situs dan video yang aman. Tak satu pun orang tahu kegiatannya ini, bahkan teman-teman dekatnya sekali pun. Ia tidak mau terganggu dalam proses belajarnya, harus netral. Yang tahu hanya Papa, tapi juga tidak banyak membantu. Hhh

Bersambung

Related Posts

Posting Komentar