HeaderBundaLillah

Kasus 1: Suami tak Berdaya

Posting Komentar


Para suami



Bismillah, Bunda akan memulai sesi konsultasi keluarga dengan kasus pertama tentang suami tak berdaya.

===

Siang terasa panas seperti biasanya di kota Semarang. Kipas angin yang berputar di langit-langit, sedikit menghadirkan kesejukan dalam rumah. Duduk bersimpuh di hadapan, seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan awal.

Si bontot sudah diamankan di kamar atas, bermain bersama kakak sepupunya yang baru saja pulang kuliah. Insyaallah aman dua sampai tiga jam ke depan. Bunda letakkan sekotak tisu di hadapan perempuan yang sebut saja namanya Cempaka. Eh, itu mah nama jalan rumah Bunda dong..heheheh

Setelah dipersilahkan berbicara, Cempaka mulai menumpahkan semua unek-unek yang ditahannya selama ini.

“Saya mau cerai saja, Bu!”

Bunda hanya tersenyum mendengarnya. Ini bukan perempuan pertama yang datang konsultasi dan minta cerai. Tidak semudah itu sayang, kata hati Bunda.

Beberapa menit berikutnya, cerita terus mengalir dan Bunda menyimak sambil sesekali mencatat poin penting yang akan didiskusikan nanti. Hal utama dari seorang konsultan keluarga adalah harus menjadi pendengar yang baik. Sebagai seorang pembicara, ini tidak mudah. Wong kebiasaannya ngecuprus, kok harus banyak mendengar? Tapi di situlah letak keseruannya.

Cempaka mengeluhkan dirinya yang harus menjadi tulang punggung keluarga selama bertahun-tahun pernikahan. Suami hanya berjualan mainan di depan sekolah dan menjadi ojek online. Keletihan harus bekerja dari pagi hingga sore membuat semua masalah berkumpul. Dia berpikir dengan berpisah, kelak bisa menata hidupnya lebih baik.

Seperti biasa, saat seseorang menemukan orang yang bisa dia percaya, tidak hanya sekedar keluh kesah yang mereka keluarkan. Tapi cucuran air mata pasti menemani segala rasa. Cempaka berkali-kali mengambil tisu di hadapannya.

Kupas Masalah


Setelah reda tangisnya dan jauh lebih tenang, Bunda mulai melakukan proses identifikasi dengan menanyakan beberapa hal sebagai pelengkap data. Tidak hanya itu, Bunda juga melakukan konfrontasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang menantang.

Di sini letak netralitas seorang konsultan keluarga. Karena yang datang hanya pihak perempuan tanpa ada penyeimbang dari pihak lelaki, maka tidak boleh ada pemihakan. Justru biasanya Bunda bersikap tidak membela kepada pihak perempuan, agar mereka juga berpikir objektif dalam memilah masalah.

Dari hasil konfrontasi, Bunda menemukan masih banyak sisi positif suami dari Cempaka:

1. Suami masih bekerja meski tidak menutup kebutuhan


Dari pagi hingga sore, sang suami berjualan mainan di depan sekolah yang jaraknya dekat dari rumah. Selepas magrib setelah sang Cempaka pulang bekerja, dia keluar menjemput rezeki sebagai ojek online.

2. Suami membantu pekerjaan rumah tangga


Setiap hari sebelum kerja, Cempaka hanya sempat memasak. Pekerjaan rumah tangga lainnya diselesaikan suami.

3. Suami menjaga anak saat istri bekerja


Saat itu mereka sudah memiliki satu anak usia balita. Suami adalah penjaga utama si anak di rumah. Itu yang membuatnya memilih berjualan mainan di depan sekolah yang lokasinya dekat dari rumah. Sesekali ia bisa pulang melihat anaknya yang dititipkan ke ibu dari Cempaka.

Sisi positif ini yang Bunda sampaikan pelan-pelan kepada Cempaka. Bahwa harusnya ia merasa beruntung memiliki suami yang mau berbagi tugas. Berapa banyak lelaki di luaran sana yang tidak peduli dengan kesulitan istri. Merasa sudah mencari nafkah kemudian abai dengan kondisi rumah.

Suami tak Berdaya


Adalah salah menyematkan kata tak berdaya pada seorang lelaki yang masih mau berjuang untuk keluarganya. Meski bisa jadi penghasilan yang ia dapatkan, jauh dari nominal yang dibutuhkan. Hanya masalah waktu Allah beri kelapangan rezeki sepanjang mau terus berusaha dan berdoa.

Dalam Islam, suami tak berdaya di antaranya adalah:

1. Tidak memiliki sifat qowwam


Dalam surat An Nisaa ayat 34

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka

Qowwam di sini tidak hanya bermakna pelindung atau pemimpin, tapi bermakna suami yang mampu menegakkan istri dan anak dalam ajaran Islam.

2. Dayuts


Dari Sâlim bin Abdullah bin Umar, berkata: Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma bercerita kepadaku bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga orang yang Allâh haramkan surga untuk mereka: pecandu khmar (minuman keras), anak yang durhaka, dan dayûts, orang yang membenarkan keburukan di keluarganya”. (HR. Ahmad)

Imam Ibnul Manzhûr berkata, “Dayûts adalah orang yang tidak cemburu kepada keluarganya”

Jelas sikap ini sangat berbahaya, saat suami membiarkan istrinya dalam kesalahan. Tidak memiliki rasa cemburu dengan istri yang mudah bergaul dengan lawan jenis dan sebagainya.

3. Menyerah dalam nafkah


Ayat di surat An Nisaa itu menunjukkan bahwa memberi nafkah adalah kewajiban bagi para suami. Maka dalam Islam, haram hukumnya seorang suami yang menganggur.

Penutup


Cempaka kembali menangis, tapi kali ini tangisannya berbeda. Tumbuh sesal dalam dirinya sudah membuka aib suaminya kepada banyak orang, termasuk teman-teman kerjanya. Akhirnya dia menyadari bahwa suaminya justru harus dia dukung dengan banyak mendoakannya agar beroleh rezeki berlimpah.

“Iya Bunda, belakangan..karena kesal saja yang ada di hati, saya jarang mendoakan suami lagi.”

Bunda sampaikan bahwa kita punya kewajiban mendoakan pemimpin. Yang sering kita lupa, pemimpin terdekat kita adalah para suami. Mereka jauh lebih pantas menerima doa-doa kita.

Bunda peluk Cempaka sebelum pulang, mudah-mudahan luka hatinya lekas mongering dan kembali bahagia dengan suami. Terselip doa, hidup mereka kelak akan lebih baik. Semoga stigma suami tak berdaya juga hilang dari pikirannya, karena Allah tergantung prasangka hamba-Nya.



Ps: Bertemu Cempaka beberapa bulan kemudian saat Bunda mengisi kajian. Dengan bangga dia memperlihatkan perutnya yang sedang hamil anak ke dua. Rona ceria terpancar di wajahnya. Alhamdulillah

 

 

Related Posts

Posting Komentar