HeaderBundaLillah

Dear My Self: Untuk Jiwa yang Pasti Pernah Terluka Tapi Berusaha Terus Bahagia

11 komentar

 

Dear Lillah




Butuh waktu lama untuk memahami tentang bicara pada diri sendiri. Seumur-umur belum pernah nulis surat yang isinya “Dear my self” dan penerimanya adalah Lillah. Ya iya lah…pak posnya bingung kali, kok SIPnya dia juga. Aduh ketahuan banget jadulnya ya, masih ngomongin pak pos.

Selidik punya selidik, emang lagi ngehits ya talking to our selves. Di banyak tempat nemuin tuh, di IG, di meme dan juga tulisan-tulisan lain. Bisa jadi kegiatan ini adalah bagian dari self healing, wow..apalagi itu? Hehehe, kan ceritanya penyembuh diri sendiri itu yang paling oke ya kita sendiri.

Sebenarnya ngomong sama diri sendiri mungkin sudah sering kita lakuin. Tapi biasanya gak sampe berpanjang kalam. Hanya sedikit-sedikit dan biasanya lebih kepada penyemangat. Ayo kamu bisa! Jangan menyerah! Apa yang kamu takutin, kamu keren kok! Gitu deh kira-kira.

So, actually this is a real challenge for me.

===

Untuk Jiwa yang Pasti Pernah Terluka Tapi Berusaha Terus Bahagia…


46 tahun sudah usiamu kini, berapa banyak lembaran yang harus aku buka untuk melihat lukamu yang mengejawantah menjadi kearifan? Cengeng jika hingga kini masih kau tangisi semua luka yang pernah tertoreh. Nyatanya mereka telah mengering dan mengubahmu menjadi dewasa. Bisa jadi semua ujian telah kamu rasakan karena janji Allah semua akan diuji.

Terima kasih untuk terus bertahan dalam bahagia di perjalanan yang akhirnya memutihkan rambutmu. Waktu juga yang akhirnya mengajarkanmu untuk tidak meletakkan bahagiamu pada orang lain. Bahagia itu adanya di pikiran, katamu. Mau menangis atau mau tertawa, tergantung bagaimana akalmu merespon.

Gak harus kan kita berlari ke belakang untuk memperbaiki segala kekurangan? Walau nyatanya hidup normal tak berpihak padamu. Status broken home terus menggelayuti mengundang iba orang lain. Bahkan saat ada lelaki yang yang berniat baik menikahimu, harus kau jelaskan dahulu agar tak menjadi duri di kemudian hari.

Atau melihat masa-masa di pesantren, saat kondisi memuakkan menyeruak. Kamu tak sanggup hidup di pondok, tapi juga tak punya tujuan jika harus pulang. Memilih tinggal di salah satu akan menyakiti yang lainnya. Bisa jadi itu yang membuatmu bertahan enam tahun ya..

Dear Lillah…

Satu waktu kakak kelasmu pernah bilang, bahwa semua kebahagiaan dan keceriaan yang kamu tampilkan hanyalah topeng dari kepedihan yang kamu simpan di sudut hati terdalam. Kamu bergeming, kamu tahu kamu memang bahagia. Duka itu hanya jarak antar bahagia. Seperti hujan adalah pemanis saat kemarau berlalu.

Ah..kamu yang kuat akhirnya Allah hadiahkan lelaki sebagaimana yang pernah kamu minta. Pernikahan yang saling menyembuhkan luka, merawat cinta dan melahirkan bahagia demi bahagia. Kamu juga akhirnya punya sosok keluarga harmonis yang menjadi panutan dari mertua. Bagaimana mereka mencintaimu seperti anak mereka sendiri.

Duhai kamu,

Sejujurnya hari berlalu setiap hari bagai angin yang sekejap membelai kemudian pergi. Kamu yang tak banyak berharap dalam kehidupan kerap menganggap hari demi hari adalah sama. Asal tak menyakiti, pasti kamu syukuri.

Mungkin memang salah kadang tak mengapresiasi pencapaian diri. Jika bukan karena omongan orang, sejujurnya kamu enggak peduli dengan semua prestasi. Bahkan seringkali menyadari saat orang lain meyakinkanmu.

Barangkali kamu masih mengingat satu momen di akhir 2017, di mana kamu dan sang penulis itu duduk berdua di toko yang lengang. Kamu cerita tentang hasrat dan kerinduan untuk menulis, tetapi selalu tak berhasil menyelesaikan satu karya pun. Penulis itu bilang, bisa jadi kamu butuh komunitas dengan frekuensi yang sama. Coba dengan karya sederhana seperti kisah inspiratif diri sendiri.

Tetiba kamu bilang, rasanya tak punya cerita hidup yang bisa menginspirasi orang lain. Penulis itu memang pintar, dia terus ajak kamu bicara hingga akhirnya dia bilang bahwa hidupmu sebenarnya penuh warna dan justru banyak nilai yang bisa diambil. Sebegitu cueknya kamu hingga sakit pun kadang tak kamu rasa.

Pesanku, terus berkarya ya..dalam bentuk apapun. Kamu selalu bilang hanya ingin jadi orang bermanfaat buat siapapun, jadi buktikan. Allah sudah berikan banyak karunia. Doa ayahmu makbul nih, kasih nama Nurul Fadhilah yang maknanya cahaya keutamaan. Mudah-mudahan nama itu membuatmu makin bersinar dalam kebaikan bagi sesama. Buang malas dan sikap permisifmu ya, mentang-mentang punya bawaan penyakit kadang suka berlindung di balik penyakit itu untuk tak bergerak. Terus jaga vibes positifmu, kamu pasti bisa berbuat lebih dari sekarang.

Satu  lagi, dalam syukurmu jangan lupa terus ikhtiar lewat doa. Kamu bilang doa itu senjatanya orang beriman. Dalam doa ada daya juang juga kepasrahan, karena kamu sudah berkali-kali membuktikan, pertolongan Allah ada dalam doa yang panjang.

Salam sayang buat kamu yang akan terus berjuang

===

Ikhtiar dan Doa



Fyuuuh…

Nggak gampang kan ngomong sama diri sendiri apalagi sampai bisa memotivasi. Makanya di surat Ash Shof ayat 3 Allah bilang dosar besar bagi mereka yang hanya berkata tapi dirinya sendiri tidak melakukan. Mudah-mudahan kita semua dihindarkan dari sikap seperti itu.

Ternyata dengan begini, tanpa terasa sesungguhnya kita sedang menghargai diri sendiri. Kita mengobati luka demi luka sendiri. Bagaimana akan menjadi manusia bermanfaat buat orang lain, jika diri sendiri masih terlalu banyak PR?

Related Posts

11 komentar

  1. Ah keren sekali surat untuk diri sendirinya bunda, semoga selalu disehatkan untuk bisa menebarkan manfaat dan kebaikan untuk disekitar kita, well done bun

    BalasHapus
  2. Suratnya keren banget. Sayang belum bisa bikin surat sekece ini, jadi kangen liqo dengan pak One

    BalasHapus
  3. Masya Allah, keren bu! Aku belum sanggup menyelesaikan tulisan tentang dear my self bu. Masih nyangkut di draft :")

    BalasHapus
  4. Butuh pengerahan tenaga yang dalam ini buat nulisnya. Saya aja belum tentu sanggup nulis kayak bunda Lillah. Takut kejebak sama kata² yang ada ditulisan ini, "berkata tapi dirinya sendiri tidak melakukan. Kerenlah bunda. Semangat buat kita Bund!

    BalasHapus
  5. Bund lillaaah... Kok keren sekali tulisannya... Tulisan dan pesan untuk diri sendirinya sungguh luar biasa...

    BalasHapus
  6. Nulis beginian kudu dalam kondisi tenang dan hening ya bund, alhamdulillah ikut vachallenge ini jadi makin memotivasi diri ..

    BalasHapus
  7. Bundaaa aku mewek bacanya. Pesan terakhirnya loh. Jangan cuma bilang aja tapi harus dilakukan. Aku pun merasakan seperti itu, takut apa yang aku utarakan malah tidak aku lakukan.

    BalasHapus
  8. Bikin tema ini tapi paling belum bisa nulisnya wkwk. Saking butuh kondisi yang bener2 hening, senyap dan kondisi hati yang lagi tenang..

    BalasHapus
  9. Salah satu tema paling berat di tantangan blogspedia. Tulisannya bunda keren bun..

    BalasHapus
  10. Ketampar bgt sama nasihat d akhir. Kita pandai bicara pada orang tapi tidak dalam perbuatan

    BalasHapus
  11. Aku kalau mu nulis gini kayaknya butuh tempat yang sunyi dan dalam keadaan hening kayaknya. Biar apa yang ditulis nggak hanya sekadar tulisan tapi juga bisa ngena dan pengingat buat diri sendiri.
    Berasa lagi dinasihatin.
    Jlebb bangett ini..

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email