HeaderBundaLillah

Uji Nyali Dalam Flash Fiction

8 komentar


 

Flash Fiction



Mommies yang biasa nulis, pasti kenal baik istilah ini. Ya, sesuai dengan namanya, flash fiction adalah cerita fiksi kilat atau ada yang menyebutnya dengan fiksi mini. Tulisan ini boleh dikatakan sebagai versi singkat dan ringkas dari cerita pendek. 

Jika cerita pendek, normalnya memuat 2000-20.000 kata, maka dalam mini fiksi biasanya hanya 250 hingga 1000 kata saja. Bahkan bunda pernah mengikuti komunitas fiksi mini di Twitter yang hanya bisa menulis maksimal 140 kata saja. Ajib kan? 

Kenapa bunda bilang ajib, karena mereka mampu mengangkat konflik dan menyelesaikannya sekaligus di jatah kata yang minim itu. Itulah juga sebabnya, bunda kasih judul artikel ini ada idiom ‘uji nyali’. Tantangan terberat di fiksi kilat adalah membangun konflik hingga akhirnya anti klimaks dalam jumlah kata yang terbatas. Dan kebanyakan flash fiction yang kurang dari 250 kata memiliki akhir cerita dengan pola twist. 

Contoh Flash Fiction 


Ners Iwan



NERS IWAN 

"Sabar ya Bu, agak sakit ini." 

Saya merasakan sesuatu yang tajam merobek kulit. Tak lama terdengar gemericik air keluar melalui selang dari perut. Cairan darah bercampur nanah masuk ke dalam tabung besar di bawah ranjang. Perawat lelaki bernama Iwan merapikan peralatannya. 

"15 menit lagi saya kembali ya Bu," ujarnya santun. 

Empat hari sudah saya dirawat di rumah sakit ini. Saya divonis kanker ovarium stadium 3. Sedianya dua hari lalu dijadwalkan operasi, tapi wabah covid mengubah rencana yang sudah dibuat dua bulan lalu. Hasil rontgen paru-paru di awal masuk, menunjukkan ada kotoran di dalamnya. Dokter tidak mau mengambil risiko karena anestesi dilakukan lewat jalur pernafasan dan jika saya positif covid, maka satu ruangan operasi akan tertular. 

Saya manut. Bahkan saat dipindahkan ke ruang perawatan isolasi, saya ikut saja. Saya yang aslinya penakut, dipaksa berdiam sendiri di kamar yang cukup mewah. Di ruang perawatan inilah saya kerap dibantu Iwan, perawat berperawakan kecil dari Kota kembang. 

Usianya sama dengan sulung saya. Maka setiap kali dia merawat saya, yang terbayang adalah si sulung. 

=== 

"Sabar ya Bu, tiga hari lagi kita cek paru-paru lagi," kata dokter Rama saat berkunjung ke kamar. 

"Tapi saya nggak ada gejala Covid dok," sergah saya. 

"Iya Bu, tapi kami butuh bukti yang kuat supaya operasi berlangsung aman." 

Terngiang kembali obrolan saya dengan dokter penyakit dalam tadi pagi. Sejujurnya rasa bosan sudah menyergap, malam-malam tak pernah bisa tidur nyenyak karena merasakan rasa takut sendirian, di kamar sebesar ini tanpa ada yang menemani. Otak rasanya penuh dengan berbagai pertanyaan dan kekhawatiran. Bahkan kadang serasa sudah tak mampu lagi berpikir, apalagi saat rasa sakit mendera, ribuan jarum seolah berlomba masuk ke dalam perut. Perih, panas dan ngilu. Akhirnya tanpa sadar, kadang saya mendapati diri hanya terduduk menatap jendela kamar, melihat pemandangan dari lantai empat. Jalanan lengang karena wabah covid meluluhlantakkan semua. 

=== 

Lagi-lagi aku mendapati perempuan setengah baya itu hanya duduk menghadap jendela. Tak bergerak, tak bersuara. Usianya sebaya dengan ibuku, enak diajak bicara dan selalu sabar dengan kondisinya. Yang kutahu, kanker adalah penyakit paling menyakitkan. Tapi tak pernah kulihat dia mengeluh apalagi menangis. Padahal luka pasca operasinya pasti sangat nyeri. 

"Perempuang tangguh ya Hil." Tiba-tiba Indri sahabatku sudah berdiri di sebelah dan juga melihat perempuan itu. 

"Iya Ndri, masya Allah. Tapi belakangan aku lihat beliau sering melamun." kataku. 

"Iya kah? Padahal tiga hari lagi juga sudah boleh pulang kan?"cecarnya. 

Aku mengangguk dan menghela nafas. Sebagai perawat, bukan pada tempatnya jika aku mengorek kehidupan pribadi pasien. Tugas kami hanya merawat dan memastikan mereka nyaman. 

=== 

"Sabar ya Bu, saya nggak bisa lagi sering-sering merawat Ibu. Ibu sudah hampir sembuh kok, tinggal pemulihan luka saja. Mudah-mudahan hasil biopsi nya juga bagus." 

Itu jawaban Iwan saat saya tanya kenapa baru datang lagi. 

Dengan telaten dia membersihkan luka operasi dan mengganti perbannya. Entah mengapa Iwan selalu membuat saya tenang dan nyaman, padahal saya tidak pernah tahu seperti apa wajahnya. Setiap kali datang selalu dengan APD lengkap bak astronot. Saya hanya mengenali suaranya saja. 

"Emang nak Iwan mau kemana?" tanya saya. 

"Nggak kemana-mana Bu, cuma mungkin shift saya lebih sering malam. Kan kalau malam Ibu juga sudah tidur." 

Saya hanya tersenyum. Di hati sudah berniat sekeluarnya saya dari rumah sakit akan memberi mereka hadiah. Tidak hanya Iwan tapi juga Hilma, Indri dan yang lainnya. 

=== 

"Iwannya di mana ya teh Hilma? Ibu belakangan kok jarang lihat ya?" tanya saya pada Hilma, salah satu perawat favorit juga. 

"Siapa Bu? tanya Hilma heran. 

"Nak Iwan, perawat di sini juga. Yang badannya kecil, orang Bandung." kataku. 

Kulihat tubuh Hilma bergetar, matanya berkaca-kaca. 

"Ibu pernah dirawat A Iwan?" 

"Sudah sering teh. Dari awal ibu masuk juga nak Iwan yang banyak merawat. Kenapa teh, kok seperti aneh?" 

"Oh, nggak papa Bu. Nanti saya cari dulu ya," pungkasnya sambil permisi keluar. 

=== 

Tiba hari kepulangan... 

Masih di atas kursi roda, saya didorong keluar rumah sakit oleh Hilma dan Indri. Dari tempat parkir kami berbelok ke belakang rumah sakit. Di sana terletak area kuburan milik masyarakat setempat. Kami berhenti di sebuah makam dengan nisan bertuliskan "Iwan sastrawijaya". 

Terdengar suara isak tangis perlahan hilma dan Indri di belakang saya. Kalau tidak melihat nama itu tertera di sana, saya tidak akan mempercayainya. 

Iwan sudah meninggal tiga tahun lalu. Ia yang kala itu sedang merawat seorang ibu, terjebak dalam lift yang terbakar. Baik Iwan maupun pasien itu tak bisa diselamatkan. Dan Iwan dimakamkan di belakang rumah sakit, atas permintaan pihak rumah sakit sebagai bentuk penghormatan dan sebagai peringatan agar manajemen rumah sakit semakin mengedepankan keselamatan kerja. 

Saya hanya menengadahkan wajah ke langit, menahan rasa yang membuncah di dada. Air mata berlompatan keluar tak bisa dibendung. Sama sekali tak ada rasa takut, yang tersisa hanya sedih yang mendera. 

Saya menarik napas dalam-dalam dan mulai melantunkan untaian doa untuk Iwan. Terima kasih nak, buat pelajaran keikhlasan dan ketangguhan yang kamu tunjukkan... 

***

Penutup 


Seorang penulis, kadang perlu menantang dirinya untuk mencoba berbagai genre. Menulis fiksi oke, non fiksi juga keren, apalagi faksi harusnya lebih ciamik karena sekarang sedang booming antologi kisah inspiratif. 

Sesekali bermain di puisi, lain waktu olah kata menulis pantun. Oh ya mommies, menulis cerita anak juga tantangan lho, mulai dari jumlah kata yang juga biasanya tidak banyak plus pemilihan diksi yang bisa diterima anak. Nah, kali ini bunda menantang yuk cobain bikin flash fiction, dijamin nagih deh. Salam hangat.

Hemingway
Contoh Flash Fiction by Ernest Hemingway


Related Posts

8 komentar

  1. Ceritanya bagus, Bunda. Aku perlu banyak belajar dari Bunda Lillah, nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah....sama-sama belajar yuk. Mbak Dini juga udah mastah nih

      Hapus
  2. masya Allah bunda satu ini berbagai tulisan sudah dilakukan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus berani mencoba mbak Via, meski kadang tak semulus yang kita mau. Banyak kejedotnya juga kalau nyoba genre baru.

      Hapus
  3. Aku suka fiksi mini, karena ceritanya pendek tapi sudah dapat fell nya.
    Btw aku baca fiksi yg awal lngsung merindingšŸ˜… agak geli kalo msalah darah

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheheh...iya, bab darah memang banyak yang gak suka. Bunda pun terbiasa karena bolak balik operasi.

      Hapus
  4. MasyaAllah, Bunda. Ceritanya serasa nyata. Sedih bacanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terinspirasi dari kisah sendiri sebenarnya. Hanya dimodifikasi supaya feelnya dapet.
      Makasih ya udah mampir

      Hapus

Posting Komentar