HeaderBundaLillah

Poverty Makes Stronger: Super 30 Movie

4 komentar

 

Cover Super 30




Entah kenapa tiba-tiba kangen nonton film Bollywood, acha…acha…acha. Meluncurlah ke mbah Google dan nemu film Super 30. Jujur tiba-tiba telunjuk berhenti scroll karena awalnya memang melihat tokoh utamanya. Yup, Hrithik Rhosan. Salah satu bintang Bollywood yang bunda sukai karena peran-perannya yang menarik. Salah satu? Berarti ada yang lain dong? Ya adalah 😍

Cerita sedikit ya kenapa bunda suka Bollywood, yang mungkin di mata anak milenial mah jadul tontonannya. Mommies yang masih muda-muda pun pasti lebih memilih drama Korea kan. Jadi, dulu sejak kecil, setiap libur sekolah bunda pasti berlibur ke rumah mama. Nah, ada salah satu tante yang sering ajak kita pagi-pagi ke bioskop di tengah pasar Kebayoran Lama, Jaksel. Ya nontonnya Bollywood itu. Dulu masih zamannya Amitabh Bachchan, Mithun Chakraborty, Dharmendra, Hema Malini dan Rekha.

Kebetulan ibu sambung bunda yang orang Batak pun suka film India, beliau cerita kalau siaran TV3-nya Malaysia yang notobene banyak menayangan film Hindustan, direlay di Medan. Jadi sejak 90an akhir, seringlah bunda nonton film India di televisi nasional sama ibu. Dan bunda lebih mudah mengenali wajah bintang Bollywood ketimbang Korea, habis artis Korea mah hampir mirip semua wajahnya 😂

Sinopsis Film Super 30 


Anand Kumar
Anand Kumar saat menjual papadum. Source: Medium.com



Akhirnya bunda memutuskan nonton film ini karena melihat tema pendidikan yang diangkat di dalamnya. Belakangan film India banyak berisi kritik-kritik sosial yang sangat bagus dan kadang mirip dengan kondisi di negara kita. Ups.. 

Film ini mengambil alur mundur, diawali dengan tampilnya murid dari Anand Kumar di sebuah pertemuan antar negara di London pada tahun 2017. Delegasi itu bernama Fugga Kumar, salah satu murid dari 30 murid yang disebut super 30 di film ini. 

Dengan menggunakan Bahasa Hindi dia mengatakan,”Ya, saya dari India. Negara dunia ketiga, Negara berkembang dengan tenaga kerja yang murah. Tapi lihat siapa yang mengepalai Pepsico, mengelola Unilever, Bank Jerman, bahkan Google, di antara mereka pasti ada orang India. Setiap manusia ke 7 di dunia adalah orang India. Penemu angka 0 juga India.” 

Fugga tidak mau menggunakan Bahasa Inggris meski bisa dan memaksa semua hadirin non India menggunakan headphone terjemah. Sebagai bekas jajahan Inggris, orang India dipaksa berbahasa Inggris selain Bahasa Hindi. Hingga Bahasa Inggris kemudian menjadi sekat antara si miskin dan si kaya. 

Lebih jauh Fugga mengatakan bahwa dibalik kesuksesannya ini, ada seorang lelaki luar biasa yang telah mengubah hidupnya dan kemudian film berdasarkan kisah nyata ini dimulai dengan scene di mana Anand Kumar meraih juara matematika di kampusnya, Universitas Bihar. 

Anand Kumar yang diperankan dengan sangat hebat oleh Hrithik Roshan adalah siswa cerdas dan dianggap sebagai kalkulator berjalan. Terlahir dari keluarga sederhana, ayahnya seorang tukang pos dan ibunya adalah pembuat kue. Memiliki seorang kakak lelaki bernama Pranav. Semua orang bangga padanya, bahkan sang menteri pendidikan mengatakan pintu rumahnya selalu terbuka dan siap membantu Anand kapanpun. 

Demi kecintaannya pada belajar, dengan menaiki kereta api, setiap akhir pekan ia akan mengunjungi perpustakaan Varanasi yang ada di luar kota Patna, tempat tinggalnya. Di sana ia belajar dengan menyelesaikan kalkulasi matematika dalam jurnal asing. Sayang, satu waktu akhirnya di dipergoki oleh seorang pustakawan yang mengusirnya karena ia bukan penduduk kota itu dan tidak terdaftar sebagai anggota perpustakaan. 

Sebelum keluar, salah seorang staf di perpustakaan mengatakan bahwa dia bisa mendapatkan langganan seluruh jurnal asing secara gratis, jika dia mampu menyelesaikan soalan matematika dan menerbitkan artikelnya di jurnal tersebut. Terpacu dengan motivasi itu, akhirnya Anand berhasil menyelesaikan sebuah persoalan matematika dan menerbitkannya di jurnal internasional. Dengan bangga ia pun kembali datang ke perpustakaan tersebut dan mendatangi sang pustawakan sambil menunjukkan artikel yang bertuliskan namanya. Telak dong ah… 

Tidak hanya sampai di situ, seorang profesor di Universitas Cambridge mengiriminya surat dan menyatakan tertarik dengan jurnal yang ia tulis. Profesor itu berharap Anand bisa berangkat ke Inggris agar bisa meneruskan pendidikannya di sana. Seluruh upaya dilakukan termasuk mendatangi mentri pendidikan yang pernah berjanji membantunya, tapi apa daya janji hanya tinggal janji. 

Dalam situasi sedih seperti itu, Iswar sang ayah tak mampu menanggung kepedihan dan akhirnya meninggal. Tiba-tiba semua gelap di mata Anand, tak ada lagi harapan. Untuk membantu ekonomi keluarga, ia pun akhirnya membantu ibunya dengan menjual papadum berkeliling dengan sepeda. 

Suatu ketika di tengah usahanya berjualan, dia bertemu dengan Lallan Singh, seorang pejabat setempat yang juga dulu pernah memenangkan kejuaraan seperti dirinya. Lallan mengajaknya menjadi guru di lembaga bimbingan belajar miliknya. Excellence Coaching Center menawarkan pendidikan untuk bisa lulus tes IIT (Indian Institut of Technology) yang memang terkenal sulit. 

Sejak itu, tidak hanya ekonominya yang berubah, tapi juga kehidupannya. Anand sangat menikmati pekerjaannya, meskipun ia tahu lembaga bimbingan belajar itu sudah menjadi mafia yang menggurita dan hanya bisa dinikmati si kaya. Hingga satu hari saat berada di sebuah kafe dia melihat seorang pekerja kafe yang tengah asyik menyelesaikan soal matematika. Sayang, lagi-lagi kemiskinan menghalangi anak tersebut dari pendidikan selayaknya. Tiba-tiba Anand merasa bercermin pada dirinya sendiri. 

Dari peristiwa itu, Anand memutuskan meninggalkan Excellence Coaching Center dan membuka lembaga pendidikannya sendiri. Pesertanya harus anak yang mau belajar dan berasal dari keluarga yang tidak mampu. Maka berbondong-bondong anak-anak dari berbagai penjuru daerah mendatangi tempat Anand. Dengan uangnya sendiri, Anand harus memperjuangkan hidup 30 anak cerdas tersebut. 

Dari sinilah konflik mulai bermunculan. Karena marah ditinggal Anand, Lallan melakukan berbagai cara untuk menjatuhkan Anand dan menghapus sekolah bentukannya. Lallan sendiri ditekan oleh banyak pihak, bukan hanya orang tua murid yang tidak mau jika anaknya diajar orang lain, tetapi juga pihak-pihak lain yang merasa dirugikan dengan adanya sekolah gratis. 

Di sisi lain, Anand mulai mendidik para siswa dengan caranya. Ia memancing rasa ingin tahu siswa dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana di kehidupan sehari-hari. Tanpa disadari, mereka sedang belajar matematika, fisika dan ilmu lainnya secara bersamaan. Seperti seorang penyihir, dia mengajak para siswa bukan hanya belajar tetapi merenungkan makna dari semua yang mereka dapat. Duh…buat bunda, ini epik banget sih. Seketika kangen ngajar di hadapan banyak siswa seperti dulu. 

Bagaimana akhirnya? Apakah teror Lallan Singh terus berlanjut? Bagaimana cara Anand dan anak-anak menghadapi semua ujian dan fitnah yang tidak mudah? Apakah ke 30 siswa itu akan berhasil masuk IIT? Yang harus diingat, 90% isi film ini adalah kisah nyata. Jadi jangan terlalu halu ya dalam menyimpulkan sebelum menontonnya 😍

Moral Values 

1. Pendidikan adalah jalan menuju surga 


Ini adalah kata-kata yang diucapkan sang menteri pendidikan, walau kenyataannya ia sendiri mengingkari dengan tidak memenuhi janjinya. Tetapi pendidikan memang harus menjadi akar dalam kehidupan ini. Karena bukan hanya sekedar transformasi pengetahuan, tetapi juga teladan karakter dan pembiasaan kebaikan. 

2. Setiap kebaikan ada balasannya 


Dalam satu scene, seorang pembunuh bayaran mendekati Anand namun tidak mau membunuhnya. Alasannya sederhana. Saat dia masuk penjara, ayah Anand telah datang ke ibunya dan menghiburnya dengan mengatakan bahwa putranya telah diterima bekerja di luar kota dan meminta sang ibu untuk bersabar. 

Keyakinan bahwa putranya sedang bekerja di luar kota itulah, yang membuat si ibu yang sudah tua, mampu bertahan hidup hingga si anak keluar penjara. 

3. Cinta orang tua tak pernah bertepi 


Ketika Anand mendapat beasiswa ke Cambridge, ayahnya berkorban dengan menjual seluruh harta yang mereka miliki. Ibunya pun mengorbankan selendang-selendang tebalnya untuk dijadikan baju hangat Anand. 

Dengan bangga sang ayah turut mengarungi lautan, mengantarkan anaknya bertemu menteri pendidikan, walaupun kemudian gagal. 

4. Bukan salah menjadi miskin 


Tidak ada yang salah dengan dilahirkan dalam kondisi miskin. Bukan tentang di mana kamu dilahirkan, tapi di mana kamu akan berakhir dengan kesuksesan. Film ini justru menunjukkan bahwa kemiskinan adalah kekuatan untuk menjadi lebih kuat. 

Real Anand Kumar
Hrithik Rhosan dan Anand Kumar. Source: bolly.id


Penutup 


Film yang rilis bulan Juli tahun 2019  dan berdurasi 2.5 jam ini patut diacungi banyak jempol. Buat mommies yang kurang suka dengan banyaknya tari dan lagu sebagaimana kebanyakan film India, di sini tidak akan menemukan hal itu. Tetapi tentu saja seperti khasnya film India, mommies bakal menemui preman-preman jahat, scene perkelahian yang meski dibuat senatural mungkin, tetap akan mengingatkan kita bahwa ini film India. 

Buat mommies yang di akhir tahun ini nggak ada acara, boleh banget lirik film Super 30 dan tonton deh bersama suami dan anak-anak. Salam hangat. 

"Kebutuhan adalah ibu penemuan"
                  Super 30

 

 

 

 

 

Related Posts

4 komentar

  1. Dulu aku sering banget nonton film Bollywood. 3 Idiot jadi film favorit yang juga mengangkat tema pendidikan. Baca sinopsis dari Bunda tentang film ini jadi tertarik untuk nonton.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kuy lah nonton heheheh
      Insyaallah jadi punya film Bollywood favorit lagi.

      Hapus
  2. Wah, kayaknya ini tontonan wajib para guru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bangeeeet... Bikin geleng2 deh cara ngajarnya.
      Sempetin nonton deh

      Hapus

Posting Komentar

Follow by Email