HeaderBundaLillah

Cerdas Dampingi Anak di Masa Pandemi

20 komentar

 

Cover Artikel



Rasanya nggak ada emak-emak yang nggak darting hampir setahun ini. Kalau tidak cerdas dampingi anak di masa pandemi, bukan hanya emak yang bakalan stress, tapi anak juga. Bahaya ini. Emak-emak salehah perlu tahu trik jitu dalam pendampingan anak, alih-alih menyerah. 

Tidak ada yang pernah menyangka kita akan melalui situasi aneh yang mengubah tatanan kehidupan, bukan hanya level nasional tapi mendunia. Setiap orang kemudian dipaksa menjalani hidup yang 180° berbeda dari kebiasaannya. 

Kemudian kita dapati seluruh sektor terdampak, tidak hanya kesehatan yang membuat tercengang menghadapi virus mematikan dalam hitungan hari bahkan jam, tapi juga lainnya. Krisis ekonomi kemudian ikut menghantam karena vakumnya banyak kegiatan industri dan perdagangan. Tidak berhenti hanya sampai di situ, dunia pendidikan pun menjadi muram karena sulit melakukan pembelajaran secara tatap muka. 

Dampak Pandemi Pada Anak 


Selama ini kita selalu berpikir bahwa orang dewasalah yang terdampak luar biasa dengan pandemi ini. Bahkan penelitian pun mengatakan, usia yang rawan terkena virus Covid-19 adalah mereka yang sudah dewasa hingga lansia. 

Kita kadang lupa bahwa ternyata anak pun mengalami gangguan yang cukup dari seluruh rangkaian peristiwa. Hebatnya anak, keceriaan mereka menutupi semua. Bahkan anak justru seringkali menjadi subjek kebahagiaan kita. 

Dampak Pandemi



Pandemi mungkin mengakibatkan gangguan pada fisik kita, meski tidak terjadi pada semua orang. Mereka yang daya imunitasnya kuat, termasuk anak-anak, akan bertahan lebih baik pada masa ini. Maka seruan untuk selalu menjaga daya tahan tubuh selalu didengungkan, karena merupakan tindakan preventif yang sangat baik. 

Gangguan mental juga meningkat selama pandemi ini. Bahkan mengutip laman mediaindonesia.com, terjadi peningkatan sekitar 27% di tahun 2020 jika dibandingkan tahun 2019. Jumlah yang cukup banyak ya moms. Hal-hal terkait isolasi, ketakutan yang berlebihan, krisis ekonomi, beban kerja yang bertambah berat (bagi para nakes khususnya) juga derasnya informasi yang ditelan masyarakat adalah penyebab gangguan mental. 

Dalam skala kecil, gangguan psikis yang terjadi pada anak bisa kita tandai dengan beberapa indikator: 

· Main gadget berlebihan 

· Tidur tidak teratur 

· Main di luar rumah tidak kenal waktu 

· Makan berlebihan atau justru sulit makan 

· Rewel 

· Banyak jajan 


Cerdas Dampingi Anak di Masa Pandemi 


Kebanyakan anak yang hanya duduk diam dan mendengarkan saat belajar, daya serapnya hanya sekitar 10% saja. Maka sebagai pendidik di rumah, yang bisa kita lakukan adalah libatkan anak dalam proses pembelajaran, insyaallah daya serapnya bisa meningkat hingga di angka 98%. Syaratnya adalah lakukan proses itu dalam kondisi yang menyenangkan. 

a. Bangun mindset bahwa anak kita cerdas 


Beri sugesti setiap hari kepada anak, bahwa dia adalah pribadi yang cerdas. Lakukan ini secara konsisten sehingga tertanam dalam diri anak, bahwa mereka memang cerdas. Ucapkan dengan kata-kata yang memotivasi bukan hanya sekedar,”Anak Ibu cerdas, hebat.” 

Hati-hati dalam memberikan pujian, karena cara memuji anak yang tidak tepat pun akan mendorongnya menjadi pribadi yang arogan. Para pakar mencontohkan pujian yang memotivasi dengan kalimat begini,”Terima kasih ya, usaha Kakak hari ini luar biasa.” 

“Wah, Abang hari ini lebih keren dibanding kemarin.” 

Buat kita yang muslim, jangan lupa untuk menyematkan kalimat thoyyibah seperti masyaallah, alhamdulillah, barakallah dan lainnya, agar anak paham bahwa semua kebaikan yang ada padanya, semata karena kebaikan Allah. 

Sempurnakan sugesti itu dengan melangitkan doa. Sambil berdoa, bayangkan anak-anak kita ke depannya akan seperti harapan kita. Sebut nama mereka secara lengkap satu persatu dan lantunkan doa sesuai kebutuhan masing-masing anak. 

b. Minimalisir stress otak pada anak 


Ada dua hal yang dapat kita lakukan sebagai orang tua kepada anak. Imbasnya tidak hanya untuk anak, tapi juga bisa sangat membantu kita. 

Brain Gym 


Brain gym adalah serangkaian gerakan yang dilakukan untuk merangsang otak kita bekerja lebih sinkron di kedua belah bagiannya. Meski terkesan sederhana, namun gerakan-gerakan ini dapat merelaksasi otak dengan sangat baik. 

Ajak anak untuk bersama-sama melakukannya jika kita melihat mereka sudah mulai jenuh atau lelah. Di antara gerakannya: 

Positive: Minum air putih sebagai awal dari senam otak kita 

Active: Gerakan saklar otak . Cukup gunakan jempol, telunjuk dan jari tengah lalu pijat titik di bawah dua tulang selangka. Sementara tangan yang satu mengusap pusar. Lakukan bergantian posisi antara tangan kanan dan kiri. 

Clear: Gerakan silang. Naikkan paha kanan lalu tepuk dengan tangan kiri, dan lalukan sebaliknya terus menerus sekitar 2-3 menit. 

Energic: Lipat tangan asimetris dari atas lalu turunkan hingga ke dada sembari menyilangkan kaki. Pertahankan posisi tersebut selama 2-3 menit. 

Mind Healing 


Prinsip yang harus sama-sama kita pegang adalah bahwa anak harus diupayakan selalu sehat di masa pandemi ini. Maka selain menjaga asupan makanan dan cukup istirahat, anak juga harus dijaga kesehatan mentalnya. Perhatikan ciri-ciri jika anak terlihat letih dan stress. 

Mind healing pada umumnya dikenal orang sebagai proses pengobatan bagi mereka yang memiliki luka hati mendalam. Namun dalam praktiknya, mind healing kemudian digunakan dalam proses pengobatan bagi mereka yang enggan mengonsumsi obat-obatan. Oleh karenanya, ini pun bisa kita lakukan secara mandiri di rumah, sebagai sarana pemeliharaan kesehatan. 

Tiga kata penting dalam proses mind healing adalah, rileks, tenang dan damai. Jika anak sudah bisa diam, maka mereka bisa kita ajak bersama-sama untuk merelaksasi tubuhnya. Berurutan, katakan rileks berulang kali di hati sambil membayangkan kepala lalu turun ke leher, ke dada, ke perut hingga ke ujung kaki. Begitu terus selama kurang lebih 15 menit. 

Jadi rileks nggak harus jalan-jalan ya moms… 😊 

c. Bantu anak optimalkan modalitas belajarnya 


Modalitas belajar ada tiga, yakni Visual, Auditorial dan Kinestetis. Anak yang proses belajarnya lebih cepat jika melihat disebut anak visual, jika lebih nyaman dengan mendengar maka dikatakan anak auditori dan yang harus dengan banyak bergerak, dipanggil dengan anak kinestetis. 

Selama ini yang kita pahami, jika anak visual, maka ajarkan dia sesuai gayanya. Atau biarkan dia belajar dengan metode yang dia nyaman mengikuti modalitasnya. Penelitian terbaru, justru percepat belajar anak dengan menggabungkan tiga modalitas ini. 

Pesantren Askar Kauny mengenalkan sebuat metode yang diberi nama 'Menghafal Al Quran Semudah Tersenyum'. Metode ini mengajarkan anak menghafal al Quran tidak hanya dengan melihat mushaf, tetapi suara dikeraskan agar telinga mendengar dan terakhir menggunakan gerakan tangan yang berbeda-beda sesuai makna ayat. 

Di sebuah pelatihan, bunda pun berhasil menghafal 20 kata dalam lima menit menggunakan cara ini. Penggabungan tiga modalitas ternyata memiliki dampak yang luar biasa. 

d. Fokus pada karakter adab dan akhlak 


Berpegang pada prinsip 'Adab Sebelum Ilmu', sebagai orang tua kita harus mengevaluasi apakah pembelajaran anak-anak kita selama ini telah sesuai dengan prinsip ini? 

Cara mengukurnya melalui tiga indikator: 

1. Memiliki pengetahuan 

2. Bermanfaat untuk digirinya dan juga orang lain. 

3. Menjadi sadar perintah Allah 

Jika tiga hal ini telah muncul pada anak, insyaallah we’re on the track! 

Penutup 


Gambar Happy Learning



Sebagaimana yang bunda tuangkan di gambar, kebanyakan orang tua masih melihat hasil. Kita menginginkan semua kebaikan, tapi abai pada proses. Kondisi pandemi, membuat kita lupa melihat lebih dekat pada anak. Kita cenderung memiliki perhatian lebih pada pemenuhan fisiknya, tapi tidak pada mental dan psikisnya. 

Mungkin ini saatnya berbenah, please take a look at them now. Setiap anak pasti memimpikan bisa belajar bersama kembali dengan teman-temannya. Mereka juga merindukan suasana rumah yang nyaman sehingga bisa belajar lebih tenang. 

Bersyukur dua hari lalu bunda berkesempatan mengikuti workshop yang diadakan GOW Kabupaten Bogor di gedung Korpri. Workshop dengan tema "Quantum Parenting: Cerdas Mendampingi Anak di Masa Pandemi", menghadirkan DR. H. Asep Mahfudin sebagai pembicara. Dalam durasi waktu sekitar 3 jam, beliau yang merupakan dosen UIN Sunan Gunung Jati Bandung juga pengasuh komunitas guru “Rumah Karakter Indonesia” memaparkan dengan sangat cerdas, teknik orang tua mendampingi proses belajar anak yang menyenangkan. 

Workshop kali ini sangat menyenangkan karena sudah lama sekali tidak mengikuti pelatihan secara offline. Apalagi paparan pak Asep lebih banyak langsung kepada praktik, tidak semata teori yang bisa membuat bulu mata terkepang. Makin membahagiakan karena bunda berhasil menyelesaikan tantangan dan mendapatkah hadiah buku, buah karya pak Asep, berikut lembaran uang dari bu Lilis selaku ketua GOW. Alhamdulillaah… 

Semangat ya mommies, yuk sama-sama bersikap cerdas dampingi anak di masa pandemi. Anak sehat, saleh dan cerdas tentu dambaan setiap orang tua. Butuh kesungguhan dan berpayah-payah dalam mewujudkannya. Ciayooo!

                                                                             

 

 

 

 

Related Posts

20 komentar

  1. Belajar di rumah secara online tanpa bertemu guru dan teman". Cara belajar ini pasti berdampak pada psikis anak-anak. Memang perlu tips and trick ya untuk mendapingi anak" di masa pandemi ini. Terimakasih atas sharingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 mbak Nur...
      Mudah-mudahan Allah beri kita kekuatan sabar menghadapi situasi ini

      Hapus
  2. Siap mempraktekkan, Insya Allah.

    Sekolah anakku, Alhamdulillah sebetulnya bebannya ga banya, yaa sejalan lah sama kebiasaan belajar si anak.

    Cuma anak sulungku itu memang orangnya ekstrovert banget, jadi teman itu adalah salah satu kebutuhan dia, jadi kadang dia berulah, karena sebel ga bisa main sama teman2nya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masyaallah...dia butuh penyaluran ya mbak Ney
      Mudah-mudahan kondisi ini segera berlalu

      Hapus
  3. Kadang anak juga mengeluhkan kata "bosan". Karena efek pandemi mmebuat mereka tidak bisa bermain bersama teman2 nya karena tidak ke skolah.

    Aku juga ada daftar webinar ini, tapi sayangnya nggak bs ikutan.
    Alhamdulillah berkat Bunda, wlpn nggak bs ikutan webinarnya, bs nyimak materinya disni.
    Terima kasih bunda atas sharing ilmunya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, ada webinarnya juga ya?
      Saya kebetulan ikut yang offline yang digagas pemda.

      Hapus
  4. masya Allah terimakasih bunda tulisannya membuka mataku. emang harus kudu kreatif mendampingi anak di masa pandemi ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bangeeeet.....kalau gak bisa berantem terus sama anak
      Mudah-mudahan badai segera berlalu ya

      Hapus
  5. Pandemi bikin tabiat kita berubah. Semoga aja yang baik² yang ditinggalin nanti buat kita dan anak.

    BalasHapus
  6. Masya Allah bermanfaat sekali bund.
    Mamahku baca ini lho, beliau anteng pantengin blog bunda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masyaallah....
      Salam takzim buat Mamah mbak Yulia.
      Minta doanya mamah ya, karena saya dah gak punya orang tua.
      :(

      Hapus
  7. Pelatihan offline sangat dirindukan di masa seperti ini.
    Jadi pas dapet, wah sneng bukan main. Akupun gitu.

    BalasHapus
  8. Makasiiiiiih Sharing nya Bunda Lillah...

    BalasHapus
  9. Semangat! Saatnya bonding lebih banyak dengan anak-anak krn full di rumah. Bentar lagi saat mereka besar, kesempatan itu jadi makin sedikit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak...
      Meski wajar sering bosan, apalagi anak yang di rumah tinggal satu nih
      Jadi ya temen seneng2, temen main, berantem :)

      Hapus
  10. kata ibu-ibu di kantor ku masa pandemi ini bikin mereka tambah pinter karena sambil ngebantuin anaknya sekolah online juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah...alhamdulillah ya, ternyata ada sisi positif lain dari pandemi ini

      Hapus

Posting Komentar

Follow by Email