HeaderBundaLillah

Rindu Sang Murabbi

1 komentar



Sebagai bentuk dukungan kami buat anak anak Garuda Keadilan Kota Semarang, bela2in deh nonton bareng mereka di gedung DPW PKS Jawa Tengah, Ahad 28 Februari kemarin. Nobar dibagi tiga sessi, pagi siang sore. Berhubung pagi masih ada agenda lain, jadilah kami nonton di sessi 2 yang dimulai agak telat karena peserta belum semua hadir.

Acara nobar diawali dengan pembacaan puisi milik ustadz Rahmat Abdullah oleh ananda khoziqoh

Aku Rindu Dengan Zaman Itu,

Aku rindu zaman ketika halaqoh adalah kebutuhan, bukan sekedar sambilan apalagi hiburan.
Aku rindu zaman ketika membina adalah kewajiban, bukan pilihan apalagi beban dan paksaan.
Aku rindu zaman ketika dauroh menjadi kebiasaan, bukan sekedar pelengkap pengisi program yang dipaksakan.
Aku rindu zaman ketika tsiqoh menjadi kekuatan, bukan keraguan apalagi kecurigaan.
Aku rindu zaman ketika tarbiyah adalah pengorbanan, bukan tuntutan dan hujatan.
Aku rindu zaman ketika nasihat menjadi kesenangan, bukan su’udzon atau menjatuhkan.
Aku rindu zaman ketika kita semua memberikan segalanya untuk da’wah ini.
Aku rindu zaman ketika nasyid ghuroba menjadi lagu kebanggaan.
Aku rindu zaman ketika hadir di liqo adalah kerinduan, dan terlambat adalah kelalaian.
Aku rindu zaman ketika malam gerimis pergi ke puncak mengisi dauroh dengan ongkos ngepas dan peta tak jelas.
Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah benar-benar jalan kaki 2 jam di malam buta sepulang tabligh dakwah di desa sebelah.
Aku rindu zaman ketika akan pergi liqo selalu membawa uang infak, alat tulis, buku catatan dan Qur’an terjemahan ditambah sedikit hafalan.
Aku rindu zaman ketika seorang binaan MENANGIS karena tak bisa hadir di liqo’.
Aku rindu zaman ketika tengah malam pintu depan diketok untuk mendapat berita kumpul subuh harinya.
Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah berangkat liqo dengan ongkos jatah belanja esok hari untuk keluarganya.
Aku rindu zaman ketika seorang murobbi sakit dan harus dirawat, para binaan patungan mengumpulkan dana apa adanya.
Aku rindu zaman itu,
Aku rindu…
Ya ALLAH,
Jangan Kau buang kenikmatan berda’wah dari hati-hati kami.
Jangan Kau jadikan hidup ini hanya berjalan di tempat yang sama.

Duh...baru pembukaan
 aja dah buat mata memerah, tak terasa mengenang kembali masa masa itu. Meski baru bisa bersentuhan langsung dengan tarbiyah selepas nyantri di pondok, zaman kuliah baru ikut mentoring hehehe...tapi bersyukur melaluinya tanpa kesulitan, terlalu mudah bahkan. 
Tidak seperti teman di Lombok yang harus meluangkan satu hari penuh untuk bisa liqo karena perjalanan jauh, atau bahkan teman di Nunukan yang jika liqo harus ke Balikpapan dengan pesawat, subhanallah...

Back to laptop....
Film dokumenter berdurasi satu jam setengahan ini, nyatanya tidak membuat penonton bosan melihatnya. Kadang kami tertawa bersama, kadang menahan tangis dan sesak, seringkali yang terasa adalah semangat. Yup...semangat menebar dakwah sebagaimana lakon utama dalam film ini yang sudah tiada sebelas tahun yang lalu, Syaikhut Tarbiyah Ust Rahmat Abdullah, begitu kami kerap memanggilnya.

Film yang ditata lewat beberapa chapter ini, menonjolkan tidak hanya sisi dakwah beliau, tapi sang istri menceritakan sisi romantisme almarhum, bagaimana di zaman itu almarhum kerap menghadiahi bunga untuk sang istri...so sweet....
Ustadz Lani, sahabat seperjuangan beliau bahkan hingga tercekat saat menceritakan indahnya persahabatan mereka, betapa almarhum dengan kelembutan hatinya mampu menyentuh orang banyak. Lain lagi bunda Helvi Tiana Rosa yang mengisahkan betapa humblenya beliau minta diajari menulis yang baik, padahal almarhum sendiri adalah pujangga dan penulis yang karyanya masih dibaca hingga kini.

Ust Arifin Ilham yang pernah berguru langsung dalam majlis almarhum juga berbicara tentang perhatian dan kepedulian seorang Ust Rahmat kepada orang lain.
Bahkan sahabat dekat almarhum, yakni ustadz Izzudin yang diamanahi mengelola yayasan IQRO' Pondok Gede menceritakan tentang kecintaan ustadz kepada ilmu, di mejanya buku2 dan majalah dari berbagai genre bertumpuk. Tidak heran jika kemudian tulisan beliau pun berbobot dan memiliki ruh.

Sepanjang film hati saya bertanya - tanya, gerangan apakah yang membuat ust bernama Rahmat Abdullah begitu dicintai dan dirindukan kehadirannnya? Padahal saya yakin, di luaran sana juga masih banyak ustadz dengan kapasitas seperti beliau, yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk memperbaiki ummat, yang tak kenal lelah berjibaku dengan masalah - masalah masyarakat.
Tiba - tiba saya teringat dengan tulisan - tulisan beliau yang ditulis dengan nilai sastra tinggi, yang tersebar di berbagai majalah seperti Sabili, Tarbawi, Ummi dll yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat, dan bukan hanya di Indonesia.

Yah...selain dakwah billisan, dakwah bil haal, beliau juga melengkapinya dengan dakwah bil qolam, sarana sama yang juga dilakukan ulama - ulama besar lainnya yang mendunia. Sebut saja Asy Syahid Hasan al Banna. Syekh Musthafa Masyhur, Ustadz Yusuf Qaradhawi, Asy Syahid Sayyid Quttub dll
Karena mereka paham, dakwah bil qolam mampu menyentuh langsung hati - hati manusia tanpa harus bersentuhan indrawi dengan mereka. Karena dakwah bil qolam mampu bertahan lama, menjangkau lapisan masyarakat luas dengan cara yang elegan.

Begitulah seharusnya para ulama, yang mampu mengikat ilmu dengan menuliskannya.

Finally, acara diakhiri dengan talkshow yang menghadirkan bang Mustofa Abdullah selaku executive producer, ustadz Izzudin sahabat ustadz Rahmat dan ustadz Nurul Hamdi, qiyadah dakwah kota Semarang yang sempat lama bersentuhan dengan ustadz Rahmat dalam membina dakwah di Kota Semarang.
Film dokumenter ini dibuat untuk menghidupkan kembali nilai nilai kehidupan yang ditanamkan oleh sosok almarhum, melalui tuturan cerita dari orang - orang terdekat beliau dan orang - orang yang mengagumi pemikiran - pemikiran beliau, sehingga para penonton dapat menarik benang merah dari realitas potret kehidupan beliau.

Kesimpulan....asli gak nyesel bela - belain nobar, meski cuma berduaan dengan eyang cantik Mia di antara puluhan mahasiswa/i....
I recommend all of you to watch it!



https://www.youtube.com/watch?v=21UOHI5duIw





Related Posts

There is no other posts in this category.

1 komentar

  1. Pernah nonton filmnya di Youtube tapi belum selesai :) Pernah di bioskop juga ya Bunda? Tapi yang seperti ini tidak banyak yang tertarik menonton hiks.. :(

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email