HeaderBundaLillah

Tiada Aral Dakwah

2 komentar
Lagi lagi dakwah...
Tak bosan berbicara tentang yang satu ini
Menahbiskan diri menjadi pelaku dakwah sejak menikah, maka enam belas tahun sudah menikmati berkah darinya.

Dakwah selalu menawarkan hal yang baru, menantang, naik turun sesuai situasi dan kondisi yang dihadapi. Namun sejatinya semangat dakwah tak boleh ikut berfluktuasi. Bahasa kerennya...yang namanya turbulensi dakwah, itu sebuah keniscayaan...namun keteguhan hati menjadi kedigdayaan.

Dakwah telah melahirkan banyak orang hebat dalam berbagai bidang, kemampuan orasi mereka tertempa saat mereka melatih diri menyampaikan kultum dalam lingkaran halaqohnya. Kekuatan membaca situasi, mereka dapatkan saat berjibaku membuat makalah tuntutan murobbi. Kekuatan hati dan kemantapan jiwa, diraih lewat proses mutaba'ah yaumiyyah yang terpantau.

Saling asah, asih, asuh...menghiasi perjalanan bersama dakwah dalam bingkai ukhuwwah. Tentu kemudian jarak yang terbentang, jalan yang tak mulus, ongkos yang menguap seiring tanggal yang terus berjalan, bukan menjadi alasan petarung dakwah memundurkan langkah.

Belajar dari pengalaman para petarung dakwah, yang konon menggigit Al Qur'an seraya berenang mencapai tempat liqo', berjalan kaki dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya, mengayuh sampan dari satu pulau ke pulau lain, bahkan ada yang hanya mampu melingkar satu kali dalam sebulan, karena tempat berkumpul harus ditempuh dengan pesawat terbang....masyallah

Maka setelah bertahun2 menjalani dakwah yang mudah dan dengan usia yang masih muda, saat dihadapkan dengan sedikit tantangan, justru di usia yang tak lagi muda...hanya satu kata, bismillah

Ya...liqo pertama di kota Semarang, tiba2 suami mengatakan, "rutenya melewati hutan jati.
Hah??!
Oke....hanya hutan. :)
Perdana berangkat liqo, setelah melewati desa bulusan sudah terpampang tulisan memasuki daerah latihan TNI AD, tak terbayangkan bahwa ternyata hutan jati sepanjang 3 km tersebut adalah turunan curam dengan lima kelokan tajam hingga sampai daerah Bukit Kencana...
Sepanjang perjalanan, dengan membawa balita dua tahun setengah di depan, saya harus terus menahan dengan rem tangan dan kaki, hingga sampai tempat tujuan.

Selesai??
Belum!

Kembali pulang menuju rumah pada waktu magrib, maka terbayanglah tanjakan panjang yang harus
dilalui, ditambah kini dengan kondisi gelap. Lengkap sudah mental yang harus disiapkan.
Bersyukur si bungsu tetatp ceria dan turut bertakbir sepanjang jalan. Maka bayang2 bahwa disana adalah kerajaan jin, banyak terjadi kecelakaan...sebagaimana termuat di blog2 yang saya baca, sirna sudah.

Delapan bulan sudah tinggal di kota Semarang, maka Sigar Bencah menjadi makanan sehari2 yang harus dilalui 3 kali dalam sepekan. PR yang masih menggayuti tinggal harus menguatkan kaki dan tangan.

Teringat masa2 tinggal di Bojonggede, juga mengawali dakwah dengan menelusuri jalan2 yang penuh kubangan besar, yang senantiasa full of water kala musim hujan di kota Bogor yang tak mengenal musim, krn hujan adalah tradisi sehari2 :)
Tapi saat kemudian menjadi mulus dan bagus...malu rasanya jika tak ada udzur berhalangan dakwah.


فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
"Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan..."






Related Posts

There is no other posts in this category.

2 komentar

Posting Komentar

Follow by Email