HeaderBundaLillah

Semarang....Bilakah Jadi Muaraku ?

Hijrah...satu kata yang barangkali tak siapa pun mudah melaksanakan
Satu kata yang yang kerap membuat dahi berkerut dan otak berhitung
Satu kata yang jika ditodongkan pada orang, tak mungkin syaraf refleksnya yang bekerja
:)

Bahkan dalam postingannya di salah satu sosmed, seorang adik kelas berdoa sang suami tak jadi dipindah ke luar pulau, meski...sebelumnya dia telah banyak bertanya, barangkali ada teman sekolah kami yang tinggal di kota itu (actually, she'd tried to prepare).

Tentu tak mudah...jika Rasulullah saja mempersiapkan program hijrah sedemikian rupa, dengan aneka cara dan terlihat ketelitian strategi beliau. Bahkan trial n error pun beliau lakukan ke berbagai wilayah, karena sejatinya hijrah Rasul dan para sahabat bertujuan dunia akhirat.

Tak patut jika disandingkan dengan hijrah Rasul, karena hijrahnya saya adalah nasib dari bersuamikan seorang lelaki bernama Nurhijrah... (lho...lho...).
Alhamdulillah sepanjang enam belas tahun pernikahan kami, saya sudah angkut2 barang delapan kali :)

Pasca menikah berazzam lepas dari ketiak orangtua, maka H+4 dari hari pernikahan, diboyonglah ke rumah petak di Pengadegan Timur. Setahun kemudian, harus asuh keponakan, pindahlah cari rumah yang lebih besar meski tetap rumah petak di Pengadegan Barat. Ternyata rizki tinggal di Jakarta hanya dua setengah tahun, tetiba suami mutasi ke Kota Bogor. Jadilah kami pindah ke rumah besar di ujung gang Mawar, namun ternyata kondisi rumah yang lapuk dan selalu menjadi lautan saat hujan besar (apalagi di kota yang memang pny julukan kota hujan), puncaknya menangis karena keletihan harus berjibaku dgn banjir...belum lagi posisi pojok rumah kami disukai seorg bapak setengah baya yg kehilangan akalnya utk tempat nongkrong. Seharian bapak itu akan duduk sambil ngoceh tiada henti :)
Namun yang paling mengerikan dari posisi pojok adl ternyata juga digunakan anak2 muda utk 'nyepet' hhhfft. Beberapa kali sambil menjahit, saya lihat seorang anak muda menyuntikkan jarum di lengan temannya...parahnya tak ada yang dapat saya lakukan.

Bertahan setahun, gotong gotong barang lagi ke daerah Pasir Kuda..alhamdulillah betah di rumah kontrakan pakde Srijadi sampai 5 tahun kemudian suami ternyata promosi ke Jakarta lagi.
Belum ada rumah, sementara ikut mertua di Bojonggede setahun, sambil bangun rumah, kami kontrak di lain kampung setahun. Terakhir selama enam tahun, finally menempati rumah sendiri, alhamdulillah.

Saya pikir, sudahlah....akan menua di Bojonggede... Apalagi posisi jabatan kami sdh mapan.

Namun Allah masih punya rencana indah utk keluarga Nurhijrah :)

Kepenatan lalu lintas di Jakarta yg harus dilakoni suami setiap harinya dan demi mempertahankan hidup berkualitas, suami memutuskan hijrah ke daerah...dan Semarang jadi destinasi berikutnya.

Letih kah?
Pasti...tapi berpindah2 memang menyenangkan. Banyak pelajaran yang dapat kami ambil dr setiap perhentian hijrah kami. Mempelajari kultur masyarakat, berinteraksi dengan aneka bahasa, menikmati ragam wisata dan kulinernya...terpenting bertemu dan berkenalan dengan banyak saudara kmd menjalin ukhuwwah dalam bingkai dakwah.

Jadi...jangan takut hijrah ya


Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Follow by Email