HeaderBundaLillah

Untuk Sebuah Nama

Posting Komentar
Tulisan ini saya buat satu tahun lalu....saat Bapak yang kubanggakan masih menemani dan kerap memeluk.
Tapi kini, sebulan setelah kepergiannya, tiba2 saya teringat lagu ini...rindu...rindu nian padanya...

Allahummaghfir lahu, warhamhu wa 'aafihi wa'fu 'anhu


Ayah.....Dalam Hening Sepi Kurindu


Ayah, bapak, papa, abi...apapun itu sebutan yang disematkan pada seorang lelaki yang telah Allah karuniakan anak padanya, panggilan terhormat yang sepatutnya membanggakan.

Bapak....saya bersyukur terlahir dari 'benih'nya...ditakdirkan Allah menjadi anaknya. Dengan segenap kekurangan yang pasti ada pada dirinya, kekuatan jiwa dan karakternya mampu menutupi semua itu. Bapak yang pasti tak pernah luput dari kesalahan dalam kehidupan, namun buat saya ia berhasil mengisi peran "ibu" yang terenggut dari hidup saya.

Padanya saya belajar ketekunan, kesabaran menghadapi kehidupan, keberanian berbicara, kepercayaan diri meski besar dari keluarga 'broken home' (that's not ashame at all...), keteguhan memegang prinsip dan kelembutan hati.
Terima kasih Bapak......

Tapi tak semua ayah memahami perannya!
Saya marah pada sosok ayah yang jumawa, merasa telah berlelah lelah dalam mencari nafkah hingga tak 'sempat' menyentuh hati anaknya setiap hari. Ya, setiap hari! Tak ada alasan untuk tak bersentuhan dengan anak. Aktif di berbagai media sosial, namun tak aktif memantau anak.
Jika pun tak mungkin bertemu secara fisik, sentuh mereka dalam setiap doa.....

Lima tahun Allah beri kenikmatan saya menjadi pendidik anak - anak remaja...
Lima tahun menghadapi aneka polah anak yang zuper duper (but I enjoyed it)
Satu yang berhasil saya rekam, betapa besarnya peran seorang ayah dalam hidup seorang anak!
Ayah yang terlampau keras pada anak, hanya akan melahirkan anak yang juga keras atau bahkan menjadi pengecut
Ayah yang terlampau lemah pada anak, menciptakan anak yang labil dan oportunis dalam kehidupan
Sungguh tak mudah....
Tapi celotehan anak anak remaja di sekeliling saya sesungguhnya merindukan ayah - ayah mereka
rindu yang terlampiaskan dalam amarah, menentang, menabrak aturan...
berharap sang ayah akan menolehkan wajahnya
Tanpa mengecilkan peran ibu (yang nyatanya justru memainkan peran terbesar), adanya sosok ayah adalah sumber kenyamanan untuk anak. Keyakinan bahwa ada pelindung dalam keluarga, ada sandaran di kala mereka susah. 
Ayah adalah sumber belajar, pemegang lisensi terbaik dalam membentuk karakter anak.
Rasanya akan bertepuk sebelah tangan, saat dunia sekolah di'sibuk'kan dengan doktrin pendidikan berkarakter...sementara di rumah anak kehilangan panutan karakter.

So dad...please, not only teach..but touch (u'r kids heart)
:')

Bojonggede, 30 November 2013

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Follow by Email